Sunday, February 7, 2016

Yet another one of my poem.

Maybe it was the idea of you, that appeals to me.
Not what you really are.
Maybe it's because everyone else was having it.
And I guess I want to have something like that too.

And I was clumsy, cause I thought it will end soon.
I was naive, for thinking that this is just another one,
that I will get over in a short amount of time.

Then I was wrong.

My feeling towards you grows apart.
Faster than the bloom, deeper than the spring.
Before I know it, You are everything I could ever think of.

ANd I was terrified.

Locking this feeling deep, deep down to my core.
Trying to fell in love all alone,
while holding on to the idea of independent.

Love.
This is a classic and mysterious thing.
It is.

I couldn't think logically when it comes to you.
Thousands, even millions reasons are standing there to tell me,
that I have to let you go.

But why,
a single reason of saying yes,
Is making me eager to stay?




02-02-2016
23.03 PM

can't sleep. missing this one.

Wednesday, January 27, 2016

Kalau.

Kalau memang semua itu nyata.
Kalau memang khayalanku bukan buaian semata.
Seharusnya bisa dicegah.
Seharusnya bisa.

Karena ini tulus, mengalir untukmu.
Tidak perlu menunduk begitu,
Aku akan selalu melihatmu penuh harap.
Menganggapmu yang terhebat.

Cara kita berbeda, mungkin dengan jalan yang sama.
Tapi tahukah kau, aku selalu menganggap itu
Yang membuatmu istimewa?

Kau yang pertama.
Bukan mudah dirubah, tidak mudah dihapus.
Tidak akan pernah.

Kalau memang sakitku malam ini
Tidak cukup untuk menahanmu membisu,
Aku akan terima itu.
Mungkin aku yang tidak cukup bersinar untuk menahanmu.

Tapi kalau alasanmu bukan itu,
Aku takut, sayang.


Aku takut kita kehilangan sesuatu yang indah.
Aku takut kita kehilangan takdir kita.
Aku takut kita kehilangan masa depan,
Yang seharusnya bisa membuat kita berdua bahagia.



0.48 AM, ditulis dan mengalir saat memikirkan dia. Naturally.

Sunday, January 24, 2016

Lakukan.


Lakukan saja. Sekarang.
Tanpa perlu menunda-nunda.

Lakukan saja. Hari ini.
Jangan takut untuk memulai.

Kicau burung itu, jadikan pertanda.
Tuhan mendorongmu, dalam kilas dan makna.

Susun rencana.
Rencanakan jadwal.
Jadwalkan strategi.
Dan strategikan aksi.

Cahaya itu berdiri disana, 
Menanti dengan penuh harap.

Kapan kau mulai perjalananmu?

Ia mulai cemas kau meragu,
Berbalik arah ke negeri penuh pengulangan.
Ia menggigit bibit khawatir,
Memberimu semangat dalam hati,
Penuh diam.

Lakukan saja sekarang. 
Buat dia tersenyum.

Jangan pernah lupakan.
Niat yang benar, 
akan membawa dia, dan seluruh dunia.
Berlari mendoakanmu. 


Friday, January 22, 2016

2.27 AM. Got insomnia. Not a good indication.

Now playing : My immortal - Evanescence. 

Ada semacam satu bentuk ketidak-ikhlas an malam ini.

Untuk semua memori. Untuk semua ide.

Untuk satu impian yang rapuh.

Yang aku takut memang tidak pernah ditakdirkan untuk berujung baik.

Walaupun iya, sedikit - hanya sedikit - aku masih berharap Tuhan mendengarnya dan mengubahnya jadi kenyataan.

Ini sebabnya aku menutup hati.
Penyebab aku bungkam, tidak pernah mau jujur terhadap perasaanku sendiri.

Karena ketika aku jatuh, aku akan jatuh dalam.

Dan ya, rasanya sakit.


Aku bisa bangun dan menjadi sosok tegar dan kuat pada siang hari. Menjalani semuanya dengan penuh semangat dan antusiasme, hari demi hari.

Apa kamu tahu rasanya?

Menahan perasaan yang, sungguh. Susah untuk ditahan.

Dan aku bangga pada diriku sendiri karena berhasil melakukannya.

Ya, aku akan jujur satu.

Salah satu kebanggaanku : menahan perasaanku padamu. Dalam-dalam. Kuat-kuat. Memamerkannya hanya pada Tuhan.

Tapi kenapa..

Ah.

Kerap kali aku gagal tiap malam hari seperti ini.
Terbangun tengah malam, mengamati berbagai gambar itu, lalu mengingatmu lagi.

Begitu banyak seandainya terlontar untukmu dan kenanganmu.
Seandainya yang entah kenapa aku belum ingin kamu tahu.

Masa depan itu penuh misteri, dan mungkinkah dalam satu dari beribu kemungkinan,

impian rapuhku bisa jadi kenyataan?

Aku Tahu.

Maumu apa?
Kau panggil mesra, lalu kau buang jauh.
Kau bisik bermanja, dan lalu bungkam.
Kau tersenyum menggoda, lalu jatuh cinta padanya.

Maumu apa?
Mendekat rapat sebelum berbaik arah.
Bercanda manis, tapi lalu lupa.
Kau tatap penuh cinta,
Sebelum berpaling sepenuhnya.

Sayang, aku wanita kuat.
Dan aku berpikir.
Sayang sekali,
Cintamu yang membodohiku,
Belum bisa kulawan.

Tapi ya, aku tahu.
Aku mengerti saatnya bertahan.
Aku tahu kapan harus menyambut.
Aku ingat kapan harus menjaga,
Dan aku paham kapan harus menjauh.

Kekuranganku, kupercaya bisa kurubah dalam sekejap.
Tapi aku juga butuh tahu.
Seberapa jauh kau mau menerimaku.

Sayang.
Seandainya kau tahu.
Satu langkah lagi.
Lakukan semuanya selangkah lagi,
dan aku akan putuskan.

Akan kubalik arahku berjalan,
Tak pernah ke arahmu.
Tidak akan lagi.

Dan saat kau menyesal nanti,
Panggil namaku sepuasmu.
Mohon padaku untuk jatuh ke pangkuanmu.
Lakukan itu dengan sia-sia.

Maafkan aku.


Aku, tidak akan kembali.

Thursday, January 21, 2016

Pertanyaan Retorika

Berpeluh juang mencari sempurna.Ini toh usaha, mungkin tidak ada salahnya.
Terserah orang berpendapat apa.
Setiap benak punya beda, 
Setiap kepala berpikir yang tak sama.
Lalu apa hak merasa sempurna?

Aku sederhana.
Yang kuanggap benar kulakukan.
Yang kuanggap salah kutinggalkan.
Lalu sisanya apa?
Ah. 
Lagi-lagi kembali ke retorika.
Tentang pertanyaan,
Dan jawaban yang tak jelas ujung pangkalnya.

Januari 2016.
Ditulis saat galau akan kehidupan yang jelimet dan menantang. 

Dalam Diam

Dalam diam kuteliti, cermat.
Rasanya tidak bisa kusimpulkan,
Terlalu takut mengulang kesalahan.

Secepat itu mengambil keputusan,
Ternyata bukan yang dimau Tuhan.
Ya, Dia berikan berbagai hukuman,
dan aku cukup mengerti, untuk takut mengulangi.

Kamu istimewa, meskipun bukan buatku.
Kamu berharga, meskipun bukan jodohku.
Atau iya?
Ah, sekarang aku hanya akan diam.
Berdoa untukmu diberi kesehatan.
Iya, kau, sang imam idaman.

:)